jump to navigation

Ibuku vs Deputi Senior Bank Indonesia December 5, 2009

Posted by matinu in Me.
trackback

Ibu vs Deputi Senior Bank Indonesia (Miranda S. Goeltom)

Assalamu’alaikum.wr.wb

Gw sempatkan pulang waktu pernikahan kakakku.
Merasa ada beban moral jika sampai kakakku menikah gw hga datang.
Kuputuskan berlibur selama 10 hari, bagiku cukup.
Ongkos pulang yg cukup mahal, jadi sekali pulang gw pengen tidak dalam durasi yang pendek.
Untuk ongkos sekali pulang saja, sudah bisa buat uang muka untuk beli Motor Baru.
Hmmm…berat di ongkos.
Disaat temen-temen yg lain gajinya ditabung buat modal kawin/nikah gw menabung untuk pulang.
Ironi betuuulll..
betul…betul..betul (Ipin Upin Mode ON)

Selama 10 hari gw pulang di jawa aku dedikasikan waktuku untuk keluarga. Dari antar jemput ibu ke kantor, sampai jadi baby sitter buat keponakanku yg cantik, Annisa. Maklum ibu sedang punya gawe, persiapan untuk menikahkan kaka gw. Secara kakak gw cewek, dan adat di jawa, yg adain resepsi ketika anaknya nikah adalah dari keluarga si Cewek.

Hmmm…maklum keluarga gw bukan dari kluarga yg mampu, jadi acara akad, dan makan-makan untuk kluarga besar gw dilaksanain di rumah secara sederhana pula. Dari cari tukang photo, pesen kue (kotakkan) sampe belanja di pasar gw lakuin.

Hari Minggu pagi, jadwal gw Padat,
1. Bangun,
2. Nganter ibu Jamaah Subuh,
3. Nganter ibu berolahraga pagi,
4. Nganter ibu belanja,
5. Servis sepeda motor ibu,
6. Nyuci motor Ibu,
7. Nungguin Cucu Ibu (alias ponakan gw)
8. Pergi maen, cari calon mantu buat ibu (hehehe, ini cariin mantu apa pacar buat gw?)
9. Bantuin ibu habisin makanan di rumah. (alias makan)
10. Tidur di kamar Ibu,

Gw lakuin semua demi ibu….hehehehe.

Saat ini gw masuk daftar aktifitas nomer 4,  kluar masuk pasar, nganter belanja ibu buat acara pernikahan kakak.
Hmm…gw ngikut dech, demi dirimyu ibukyu..hiks..hiks…gw relakan harkat dan martabat gw untuk masuk Pasar.
Bukan karena gw ga mau masuk pasar tradisional, tp karena gw merasa SALTUM aja.
Masa’ masuk pasar, pake sepatu kets putih,celana 3/4, kaos oblong, dan handuk kecil di leher..hiks..hiks…

Gw : “Bu, masa’ aris pake baju gini masuk pasar?”
Ibu : “Gpp ris, ibu kan uda biasa masuk pasar ditemenin tukang becak/kuli panggul, ibu ga malu kuq”

Gw : “!@!&@#^!$($, lha emangnya gw tukang becak langganan ibu…gdubrak”
Ibu : “Enggak koq ris, masak ada tukang becak seganteng anaknya ibu” (Ngerayu Mode ON”)
Gw : “Hehehe (GE ER)”
Ibu : “Pasti orang2 disini juga ga bakalan ngira kamu tukang becak, mereka pasti ngira kamu tukang genjot Odong-odong”
Gw : “!@#^!^$%!@&$!, wedew…parah dunk”
Ibu : “hehehe”

Gw masuk pasar bak pasangan Raffi Ahmad – Yuni Sara.
Heheh, Secara gituu lhooo, ibu gw kan cantik…
Lha wong ibunya sendiri ya pasti dipuji cantik lah.

Setelah memasuki areal pasar gw baru tau, reputasi Ibu gw seperti layaknya seorang artist didalam pasar.
bayangin, setiap jalan beberapa meter, tiap stand/kios, rata-rata menyapa ibu. Ibu lebih dikenal dengan panggilan Umi atau Bu Bidan.
Kios A : “Umii…!!”
Kios B : “Badhe teng pundi mi?” (bahasa indonesianya “mau kemana mi?”)
Kios C : “Pados nopo bu Bidan?” ((bahasa indonesianya “cari apa Bu bidan?”)
Hmm…banyak sekali…sapaan dari para fans ibu gw.
Dan ibu cuma sesekali menjawab “monggo” atau tersenyum, layaknya seorang Miss Universe lg disapa fans-fansnya…hehehehehe.
Kalian pernah liat konser krisdayanti, yang lg bersalaman/memegang tangan para penggemarnya dari atas panggung…dan para penonton berebutan lambaian tangan sang diva. Nah itu terjadi pula dipasar ini, begitu salaman dengan para penjual mereka langsung cium tangan ibu…ceeilee (Lebay Mode ON)

Dari penjual lombok, hingga penjual daging.
Dari tukang jahit sol sepatu sampai pengusaha kulit sukses di Tanggulangin.
Dari penjual korek api dan kamper sampai penjual emas, mereka berebut mendapat perhatian dari ibuku…heheheh Lebay lagi dech gw…
Ibuku memang seorang Bidan di sebuah desa/kecamatan kecil,tp aku yakin reputasi beliau lebih dari seorang Miranda S. Goeltom deputi senior gubernur Bank Indonesia  di Pasar ini.
Dari mereka yang berduit, sampai para kaum yang terhimpit,
Dari mereka yang membayar, sampai yang gratis,
Mereka tidak pernah dibedakan. “Yang penting bayi mereka selamat, masalah biaya bisa dicari”
Sudah banyak nyawa yang ditolong melalui tangan ibuku.
Ibuku memang bersuami, tetapi beliaulah tulang punggung keluarga.
Dedikasi beliau terhadap pekerjaan dan keluarga tidak perlu diragukan lg.

Artikel ini harusnya terbit saat hari Ibu kemarin,tetapi karena kesibukan baru bisa diposting hari ini.
Maaf ibu, putramu belum bisa berbuat banyak dan membahagiakan dirimu.
Maaf jika senyumku belum bisa selalu menemani ibu,
Maaf jika dalam sholatku belum bisa selalu menyebut nama ibu,
Maaf juga jika didalam tingkahku hanya menambah kerutan di wajah ibu,
Maaf jika khilafku dan perkataanku hanya menambah uban di kulit kepala ibu,
Meskipun engkau selalu berkata “Aku sudah cukup bahagia memiliki putra seperti kamu”.

Selamat Hari Ibu

Salam Sayang dari Putramu…..di perantauan

Wassalam.wr.wb

Regard’s

(c) matinu

Advertisements

Comments»

1. Shelly Smart - January 7, 2010

nice son…:)

mudahan ntar aku punya mantu kek kamu Ris..:p

2. ema - January 8, 2010

terharu biru sebagai seorang ibu daku membacany…

3. chanelque - January 29, 2010

Onde mande.Ranca banar ceritanyo..!!

4. cintia bela - August 9, 2010

kalo dibilang yuni shara – raffi ahmad,,,,,,,
ibunya cantik sih,,
sayang anaknya………….

calon mantu ibu

5. Rina Hanika - August 18, 2010

wuihhh…pasti seneng tuh ibunya punya anak kayak Mas Haris…:))

matinu - August 19, 2010

Amiiiin…amiiiin…amiiiinnnn….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: